Sample Feature Post 1 Title
All of this content is sample tyr to replace these content every slider to your content descriptions. Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace it.
Sample Feature Post 2 Title
All of this content is sample tyr to replace these content every slider to your content descriptions. Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace it.
Sample Feature Post 3 Title
All of this content is sample tyr to replace these content every slider to your content descriptions. Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace it.
Selasa, 16 Februari 2016
Tips Belajar dengan Perasaan Cinta
Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah disana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.
" Habib, saya mau pulang saja."
"Lho, kenapa?" tanya beliau
"Bebal otak saya ini. untuk menghafalkan setengah mati, tidak pantas saya menuntut ilmu disini. Saya minta izin pulang."
"Jangan dulu, sabar."
"Sudah Bib, Saya sudah 4 tahun bersabar. sudah tidak kuat, lebih baik saya menikah saja."
"Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu."
"Sudah Bib, saya menghafalkan setengah mati, tidak hafal-hafal."
Habib Abdullah kemudian masuk kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia Ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan, surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai. Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.
"Ini surat siapa?" tanya Habib
"Owh, ini surat ibu saya"
"Bacalah!"
Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.
"Sudah kamu baca?" Tanya beliau lagi
"Berapa kali?"
"Satu kali."
"Tutup surat itu! apa kata ibumu?"
"Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. bapak sudah membeli mobil baru.
Adik saya sudah diterima bekerja disini, dan lain-lain."
Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan. "Baca satu kali kok hafal? katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan." Kata Habib dengan pandangan serius.
Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.
Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan, sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan yang gembira, ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal.
Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami apa yang dirasakan santri dalam kisah diatas. Jawabannya adalah rasa cinta. kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tapi puluhan lagu-lagu cinta dan ratusan nam pemain bola hafal diluar kepala. padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghafalkannya.
Bagi para guru / pengajar, jangan mudah mengkambinghitamkan kemampuan otak siswa dalam lemahnya menerima pelajaran. mungkin anda tidak berhasil menanamkan virus cinta di hati mereka.
Sumber : Buku "Petuah bijak & Kisah Inspiratif Ulama Salaf dan Nusantara"
Positive Thinking
Pada saat Imam Junaid berangkat dari rumah menuju masjid untuk sholat jumat, orang-orang yang membenci beliau mengguyurkan air comberan hingga membasahi baju yang dikenakan. Diperlakukan seperti itu, Imam Junaid tersenyum kemudian berkata, "Orang yang sepantasnya kena api neraka, hanya disiram dengan air tidak sepantasnya untuk marah." Beliau akhirnya pulang kerumah dan meminjam kain yang dikenakan istrinya.
*******************************
Imam Syafi'i dikenal memilii akhlak yang mulia. Sampai-sampai, orang-orang yang benci pada beliau tidak mampu membuatnya marah. Meskipun sudah mencoba beberapa cara.
Suatu saat Imam Syafi'i menjahitkan sebuah kain agar dibuat sebuah baju kepada seorang penjahit. Orang-orang yang benci pada beliau setelah mengetahui ini, tidak membuang kesempatan. Mereka datangi penjahitnya. Dirayu dengan imbalan besar agar mau membuat baju yang ukuran lengan kanannya lebih kecil sekali dan lengan kirinya dibuat sangat lebar. tentu saja hal ini dilakukan untuk membuat Imam Syafi'i marah.
Pada waktu yang telah disepakati, imam Syafi'i mendatangi penjahit untuk mengambil baju pesanannya. Setelah melihat baju yang telah jadi, dengan senyum beliau berkata kepada penjahit, "Semoga Allah membalas kebaikanmu. Kamu telah membuat tangan kanan sempit, ini pas sekali. Karena biasanya aku gunakan untuk menulis. Aku tidak perlu menyingsingkannya. Dan kamu telah membuat lengan yang kiri lebar. ini juga tepat sekali, karena biasa aku gunakan untuk membawa kitab."
*******************************
Dari dua kisah ini kita bisa belajar apa yang disebut "Hukum Truk Sampah". Banyak seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti benci, frustasi, kemarahan dan kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya dan seringkali mereka membuangnya kepada anda.
Jangan diambil hati, tersenyum saja, berpikir positif, lalu lanjutkan hidup. Jangan diambil sampa mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "Truk Sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.
Sumber : Buku "Petuah Bijak & Kisah Inspiratif Ulama salaf dan Nusantara"
Walisongo dengan Filosofi Garam
Garam didalam masakan itu bentuknya tidak terlihat, tetapi sangat mempengaruhi masakan. Orang jawa pada masa Walisongo meskipun sudah memeluk Islam, paling malas cuci kaki. Karena masih kental dengan tradisi hindu, agama yang mereka anut sebelumnya. Bahkan, masuk ke masjid pun tetep dengan kaki kotor. Sunan Kudus memikirkan cara agar mereka mau mencucikakinya saat ingin memasuki masjid. Dibuat jalan masuk ke masjid sebuah "jeding kobok", yaitu tempat wudhu yang di desain siapapun yang ingin wudhu, kakinya terpaksa harus di celupkan kedalam air setinggi mata kaki.
Berawal dari hal ini, tanpa sadar mereka akhirnya bisa membiasakan diri membersihkan kaki.
Orang jawa punya tradisi menaruh sepiring nasi dan lauk yang ditaruh dipojok rumah apabila ada anggota keluarganya yang wafat. Entah dengan maksud apa hal itu dilakukan. Ada yang bilang sebagai sesaji atau sebagai kiriman untuk orang yang wafat.
Suatu saat ada salah seorang yang menanyakan hukumnya pada seorang Kyai.
"Bagaimana hukumnya melakukan hal itu?"
"Silahkan, tapi mbok yo jangan satu piring, buat 40 piring."
"Ya, terus 40 piring ditaruh dimana saja?"
"Undang tetangga, beri tiap orang satu piring."
"Yang dipojok rumah bagaimana?"
"Satu piring ditaruh pojok tidak apa-apa."
Mereka akhirnya memiliki tradisi tahlilan dan sedekah saat kerabatnya wafat. Menggantikan tradisi sesajen yang sebumny mengakar kuat.
Orang hindu paling sakit melihat sapi di bunuh. Untuk menarik simpati pada dakwahnya, Sunan Kudus melarang pembunuhan sapi. masyarakat yang diajaknya lambat laun menerima dengan tulus dawah beliau.
Merubah tradisi dan kepercayaan yang telah mengakar kuat membutuhkan perjuangan dan proses yang lama. namun para Wali dan Ulama kita denga filosofi garamnya mampu melakukan itu dalam waktu relatif singkat dan hasil yang luar biasa.
Jika ingin sukses dalam dakwah, tirulah metode yang telah terbukti cocok dengan masyarakat Indonesia. Dakwah dengan nada geram dan mengkafirkan, Insyaallah kok gak laku disini.
Jika ingin memperbaiki sifat atau perilaku orang belum baik, filosofi garam ini juga bisa untuk dilakukan.
Sumber : Buku "Petuah Bijak dan Kisah Inspiratif Ulama Nusantara"
Do'a Ibu
Dikaisahkan, ada seorang ulama besar yang sangat masyhur. Dia ingin sekali pergi ke Mekkah untuk melaksanakan umrah. Tetapi ibunya tidak memberikan izin, meski dirayu dengan segala cara. Akhirnya, nekatlah ulama tersebut berangkat ke tanah suci tanpa izin dari ibunya. Sang ibu yang ditinggal sendirian merasa sedih dan kecewa. Dalam munajat dan mujahadahnya dia berdoa, "Ya Rabb, anakku telah membakarku dengan api perpisahan. Berikanlah hukuman padanya."
Ketika ulama tadi sampai di sebuah kota pada suatu malam, masuklah ia ke masjid untuk beribadah. Pada waktu bersamaan, ada pencuru melakukan aksi disebuah rumah. Pemilik rumah yang tahu kalau dirumahnya ada tanu tak diundang, lalu berteriak. Larilah si pencuri ke arah menuju masjid. Warga segera mengejar ke arah larinya pencuri.
ketika mereka sampai kepintu masjid, ada yang berteriak, "Mungkin di dalam masjid." Mereka akhirnya masuk dan melihat hanya ada satu orang disana sedang melaksanakan sholat. Spontan, ditangkaplah ulama tersebut dan diseret paksa ke hadapan walikota.
Walikota memutuskan ulama tersebut harus dipotong tangan dan kakinya. Serta kedua matanya dicongkel keluar. Dilaksanakanlah putusan hukuman tersebut. Orang-orang dipasar berteriak berulang-ulang, "Inilah hukuman pencuri." Tapi ulama tadi menimpali, "Jangan berkata seperti itu, tetapi katakanlah ini adalah
balasan orang yang ingin pergi ke Mekkah tanpa restu ibunya." Ketika ada sebagian orang mengenali ulama tersebut dan tahu fakta sebenarnya, mereka yang hadir di situ menangis dan menyesal. telah salah tangkap dan mendzalimi orang tidak bersalah.
Mereka akhirnya mengantar ulama tersebut pulang, dan diletakkan didepan pintu rumahnya. Ibunya selama ditinggal pergi sering berdo'a "Ya Rabb, jika Engkau menimpakan musibah kepada anakku, pulangkanlah ia kepadaku. Sehingga aku dapat berjumpa dengannya."
Didengarnya dari luar rumah ada suara orang berkata yang tak lain adalah anaknya sendiri.
" Aku musafir yang kelaparan, berilah aku makanan."
"Mendekatlah ke pintu!" Jawab ibunya.
"Aku tidak punya kaki untuk bisa berjalan."
"Ulurkanlah tanganmu!"
"Aku tidak punya kedua tangan."
"Jika aku mendekatimu, ada keharaman antara kita (karena tidak ada hubungan mahram antara kita)."
"Jangan khawatir mataku buta."
Ibunya kemudian mengambil sepotong roti dan segelas air, lal disuguhkan kepadanya. Ketika ibunya mendekat, anaknya meletakkan wajah ditelapak kaki ibunya, seraya berkata, "Aku anakmu yang durhaka." Ibu yang segera mengetahui orang tersebut adalah anak kandungnya, menangis dan berkata, "Ya Rabb, jika memang keadaannya seperti ini, cabutlah ruhku dan ruhnya, sehingga tidak ada orang yang melihat aib ini." Sementara sang ibu masih bermunajat kepada Allah, seketika keduanya sudah tidak bernafas.
Pesan cerita, bagi para wanita jangan gampang-gampang mendo'akan tidak baik pada putra-putrinya. Ketahuilah, do'a kalian sangat dasyat.
Sumber : Buku "Petuah Bijak & Kisah Inspiratif Ulama salaf dan Nusantara"
Rahasia Keharmonisan
Ketika bala tentara islam bertempur menghadapi tentara persia, orang-orang islam dengan pasukan kuda, sedang orang persia menggunakan pasukan gajah. Akan tetapi, karena kuda orang-orang islam tidak pernah mengenal gajah, dan sebaliknya gajah-gajah orang persia tidak mengenal kuda orang islam, maka kedua angkatan perang ini tidak pernah bisa bertempur. Baru hadap-hadapan saja, masing-masing kuda dan gajah lari tunggang langgang.
Seorang panglima islam mempunyai sebuah gagasan, agar orang-orang islam membeli sebanyak-banyaknya gajah, lalu dilatih berlari-lari supaya hidup rukun dengan kudanya masing-masing.
Pada saatnya dipandang telah tiba waktunya, pasukan islam menyerang tentara gajah persia. Kuda islam yang mengenal gajah-gajah dengan mudah menggempur pasukan gajah orang persia. Sebaliknya gajah orang persia yang tidak pernah bergaul dengan kuda tetap mempunyai ketakutang dengan kuda, sehingga akhirnya mereka dengan mudah di serbu dengan kuda orang-orang islam.
Kekalahan orang persia, antara lain karena gajah-gajahnya tidak pernah berkomunikasi dengan gajah.
Memburuknya hubungan pertemanan, persaudaraan atau pernikahan umumnya disebabkan oleh komunikasi yang buruk antara dua pihak. Kita terlalu sombong untuk memulai komunikasi, karena merasa tidak bersalah, merasa lebih tua, merasa lebih pintar dan yang lainnya.
Sumber : Buku "Petuah bijak & Kisah Inspiratif, Ulama Salaf dan Nusantara"
Minggu, 14 Februari 2016
Bersyukur
Abuya Dimyathi (Cidahu Banten) menceritakan masa-masa saat menuntut ilmu kepada putranya, Muhammad Murtadho, "Babah, ketika masih menuntul ilmu di Pondok Kadupeusing, alhamdulillah tidak pernah merasakan susah ataupun sedih dalam menjalani hidup sebagai santri yang dlo'if dan tidak memiliki apa-apa. Sehingga tidak pernah terbesit untuk mencari uang demi memenuhi dan mencukupi semua biaya dan kebutuhan di pesantren, baik dengan cara bekerja dan usaha, apalagi harus meminta-minta kepada orang lain.
Walaupan Babah hanya memiliki sehelai pakaian dan sehelai kain sarung yang Babah pakai, rasanya sudah merasa cukup dan itu yang harus babah syukuri. Dengan hanya memeiliki sehelai pakaian dan sarung saja sudah terasa berat mensyukurinya, apalagi jika banyak pakaian yang dimiliki.
Ketika baju dan sarung yang babah pakai hendak dicuci, Babah harus merendamkan seluruh tubuh didalam kali sambil menunggu pakaian babah kering yang sedang di jemur di batu-batu besar."
Mensyukuri nikmat tidak hanya sekedar mengucap hamdalah. Tetapi, nikmat tersebut harus kita gunakan sesuai fungsinya, untuk beribadah dan tidak kita gunakan untuk bermaksiat kepada pemberi nikmat.
"Sedikit yang kita mampu mensyukurinya, lebih baik dibandingkan harta banyak yang kita tidak bisa mensyukurinya." Sabda Rasulullah
Sumber : Buku "Petuah Bijak dan Kisah Inspiratif, Ulama Salaf dan Nusantara"
Tertawa Saat Sholat
Ada kejadian menarik saat Kyai Kholil Bangkalan masih menjadi santri di pesantren Langitan Tuban. seperti biasanya Kholil muda selalu berjama'ah, yang merupakan sebuah keharusan para santri. Suatu ketika ditengah sholat isya' tiba-tiba Kholil tertawa terbahak-bahak. Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Kyai muhammad Noer yang menjadi imam saat itu. Seusai sholat jamaah, Kholil dipanggil ke ndalem Kyai untuk di introgasi.
Dengan berkerut kening Kyai bertanya. "Kholil, kenapa waktu sholat tadi kamu tertawa terbahak-bahak. Lupakah kamu bahwa hal itu dapat mengganggu kekhusyukan sholat orang lain. Dan sholatmu tidak sah." ucap Kyai sambil menatap Kholil.
"Maaf Kyai, waktu sholat tadi saya tidak dapat menahan tawa. Saya melihat Kyai sedang mengaduk-aduk nasi di bakul, karena itu saya tertawa. Salahkah yang saya lihat itu Kyai?" jawab Kholil dengan tenang, mantap dan sangat sopan.
Kyai Noer terkejut, Kholil benar. Santri baru itu dapat membaca apa yang terlintas dalam benaknya. Kyai Noer duduk dengan tenang sambil menarik nafas. Sementara matanya menerawang lurus kedepan, lalu serta merta berbicara kepada Kholil.
"Kau benar anakku. Saat mengimami sholat tadi perut saya memeng sudah sangat lapar.Yang terbayang dalam pikiran saya memang hanya nasi." ucap Kyai Noer dengan jujur.
Maka sejak kejadian itu kelebihan Kholil menjadi buah bibir. Tidak hanya di Pesantren Langitan, tetapi juga disekitarnya.
Kyai Kholil muda tidak sedang meremehkan gurunya. Beliau sangat ta'dzim dengan semua gurunya. Beliau hanya perantara kehendak Allah. Dibalik peristiwa itu ada suatu hikmah yang dalam. Allah bermaksud menyempurnakan iman gurunya.
Sumber : buku "Petuah Bijak & Kisah Inspiratif Ulama Salaf dan Nusantara"
Jangan Meremehkan Orang Lain
Dikisahkan, ada seorang yang hidup bergelimang dosa meninggal di pinggiran kota Bashrah. Perilaku buruknya membuat tetangganya acuh tak acuh dengan kematiannya. Sehingga istrinya tidak mendapati orang yang mau membantu membawa jenazahnya ke masjid dan pemakaman. Terpaksa istrinya mengupahi dua orang untuk membawa jenazah tersebut.
Dibawalah jenazah tadi ke masjid. Juga tidak ada seorangpun yang bersedia menyolatinya. Orang-orang seperti pura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Istrinya memutuskan untuk segera membawa jenazah suaminya ke pemakaman.
Di sebuah bukit yang lokasinya bersebelahan dengan pemakaman, ada seorang ulama besar yang terlihat seperti menunggu seseorang. Ternyata beliau ingin menyolati jenazah yang akan melewati tempat tersebut. Berita ulama besar akan menyolati jenazah di tempat itu segera tersiar keseantero Bashrah. Orang-orang berduyun-duyun untuk juga ikut menyolati, orang-orang heran dan takjub. Ternyata jenazah yang mereka sholati adalah orang yang mereka kenal sebagai ahli maksiyat. Mereka bertanya kepada ulama tersebut.
"Apa yang membuat anda bersedia datang jauh-jauh ketempat ini dan menyolati jenazah ini?"
"Ada yang berkata dalam mimpiku, datangilah bukit di sebelah pemakaman. Disana kamu akan melihat jenazah yang pengiringnya hanya satu wanita. sholatilah dia, karena dia orang yang mendapatkan ampunan." jawab ulama.

Bertambahlah ketakjuban orang-orang yang hadir ditempat itu. Ulama tadi kemudian memanggil istri almarhum dan menanyakan keseharian suaminya dan perjalanan hidupnya. Istrinya menjawab, "Dia seperti yang sudah dikenal dikota ini. Sepanjang hari ia menghabiskan waktu untuk bermaksiat dan minum arak."
"Coba anda perhatikan lagi, apakah ada amal kebaikan yang ia lakukan?" tanya ulama itu lagi.
"Iya, setahuku tiga hal. Yang pertama, setiap dia sadar dari mabuknya pada waktu subuh, dia mengganti bajunya, berwudhu dan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Kemudian dia kembali mabuk dan bermaksiat.
Yang kedua, dirumahnya selalu ada dua atau satu anak yatim. Dia memperlakukannya dengan baik anak yatim itu melebihi kepada anaknya sendiri.
Yang ketiga, jika dia sadar dari mabuknya ditengah gelap malam, dia menangis dan meratap, "Ya Allah, dibagian neraka jahanam mana Engkau akan menempatkan hambamu yang kotor dengan maksiat ini."
Sang ulama kemudian pulang, karena dia sudah mengetahui dengan jelas peristiwa aneh yang terjadi di siang hari itu.
Jangan mudah berprasangka buruk kepada orang lain. Setiap orang punya kisah
hidupnya sendiri yang kita tidak mengetahui hakikat sebenarnya.
Sumber : Buku "Petuah Bijak & Kisah Inspiratif Ulama salaf dan Nusantara"
Keindahan Dibalik Perbedaan
Kyai hasyim Asy'ari menulis sebuah artikel dalam majalah Suara Nahdlatul ulama pada tahun 1926, beberapa bulan setelah NU didirikan. Dalam artikel ini beliau mengajukan argumentasi, karena kentongan tidak disebutkan dalam hadits nabi, maka tentunya diharamkan dan tidak dapat digunakan untuk menandakan waktu sholat.

Sebulan setelah dipublikasikannya artikel Kyai Hasyim itu, seorang Kyai senior lainnya, Kyai Faqih Maskumambang, menulis sebuah artikel untunk menentangnya. Beliau beralasan bahwa Kyai Hasyim salah, karena prinsip yang digunakan dalam masalah ini adalah Qiyas, atau kesimpulan yang didasarkan atas prinsip yang sudah ada. atas dasar ini, maka kentongan asia tenggara memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bedug untuk menyatakan waktu sholat.
Sebagai tanggapannya, Kyai Hasyim mengundang Ulama Jombang untuk bertemu dengan beliau dirumahnya dan kemudian meminta agar kedua artikel itu dibaca keras. Ketika hal itu dilakukan, beliau mengumumkan kepada mereka yang hadir, " Anda bebas mengikuti pendapat yang mana saja, karena kedua-duanya benar, tetapi saya mendesakkan bahwa dipesantren saya kentongan tidak dipergunakan."

Beberapa bulan kemudian, Kyai Hasyim diundang untuk menghadiri perayaan Maulid Nabi di gresik. Tiga hari sebelum tiba, Kyai Faqih, yang merupakan Kyai senior di Gresik, membagikan surat kepada semua masjid dan musholla untuk meminta mereka menurunkan kentongan untuk menghormati Kyai hasyim dan tidak menggunakannya selama kunjungan Kyai Hasyim di Gresik.
Kondisi yang sama namun pola pikir yang berbeda menimbulkan sikap yang berbeda pula. Sungguh ajaib pola pikir itu, apa yang kau pikirkan haknya ada padamu.
Ulama dulu telah memberikan tauladan bagaimana pola pikir saat menyikapi perbedaan. Perbedaan bukan media pertengkaran dan permusuhan, tetapi sebagai perekat ukhuwah dan memupuk sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain.
Sekarang banyak sekali yang berselisih paham, hanya dikarenakan masalah kecil. Apalagi dengan para pejabat anggota dewan yang selalu berdebat dam politik yang menjadikan mereka kurang harmonis, padahal seharusnya mereka harus bersatu untuk mewujudkan negara menjadi lebih baik, dan lebih memikirkan apa yang harus dikontribusikan untuk masyarakat.
Semoga bermanfaat yaa!!!
Sumber : Buku "Petuah Bijak & Kisah Inspiratif Ulama salaf dan Nusantara"
Minggu, 31 Januari 2016
Sumber Cahaya Dunia
(Pra Kerasulan)
Nadzar
Berawal dari yang
baik akan melahirkan sesuatu yang baik juga, dari yang baik itu adalah pemimpin
besar kaum Quraish yang masyhur yakni ‘Abdul Muthalib. Beliau adalah segelintir
orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Nabi Ibrahim, ketika penduduk
Mekkah sudah menyimpang dari ajaran Nabi Ibrahim dengan menyembah berhala di
sekitar Ka’bah.
Sebagai pemuka
Quraish ‘Abdul Muthalib mempunyai tanggung jawab yang besar yakni beliau berkewajiban untuk menyediakan air
minum bagi peziarah yang berkunjung ke Baitullah. Hal ini dikenal dengan
sebutan siqayah. Awalnya beliau dapat memenuhi kebutuhan air dengan sumur-sumur
di sekitar Ka’bah, namun sumur-sumur itu kadang mengering. Semakin banyaknya
peziarah yang berkunjung, hal ini menjadi tugas berat bagi ‘Abdul Muthalib
untuk memenuhi kebutuhan air. Walaupun disisi lain kaum Quraish mendapat
keuntungan dari hasil perdagangannya.
Satu-satunya
sumur yang bisa di andalkan hanyalah Zamzam, namun beberapa tahun silam sumur Zamzam
telah ditimbun oleh suku Jurhum tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Sementara
suku Khuza’ah yang telah mengusir Jurhum tidak tertarik untuk mencarinya.
Selama beberapa hari ‘Abdul Muthalib berpikir untuk mencari jalan keluar hingga
membuatnya letih. Salah satu tempat yang di gemari beliau untuk menghilangkan
penat adalah Hijr Isma’il yang berada disisi ka’bah.
Suatu malam
beliau terlelap di Hijr Isma’il dan tak lama kemudian beliau tersentak oleh
sebuah mimpi. Beliau merasa telah ditemui oleh laki-laki yang berpakaian serba
putih yang memerintahkan beliau untuk menggali at-Thaibah (salah satu nama
Ka’bah). Mimpi itu diceritakan kepada kaumnya dan ditafsirkan sebagai harapan
untuk menemukan sumber air. Kaumnya memohon beliau untuk tidur di tempat yang sama
agar mendapatkan kejelasan mimpinya.
Keesokan harinya
beliau tidur ditempat yang sama selama 3 hari, beliau bermimpi yang sama.
Beliau baru memahami yang dikehendaki
oleh laki-laki misterius dalam mimpinya.” Galilah Zamzam, sumber air melimpah
dan akan mencukupi bagi jama’ah haji. Lokasi sumur itu berada disuatu tempat yang
banyak kotoran dan darahnya. Disana akan selalu ada burung gagak yang
mematuk-matuk serta menjadi sarang semut”.
Dengan penuh
perhatian beliau tertarik pada tempat berdirinya berhala Ishaf dan Na’ilah,
karena menggambarkan tempat yang dituju. Tanpa banyak bicara, dengan dibantu
oleh al-Haris satu-satunya putra yang beliau miliki saat itu, beliau menggali
tempat yang disucikan oleh kaum Quraish tersebut, dengan segala resiko. Akhirnya
kaum Quraish mulai berdatangan dan mengecam beliau supaya menghentikan
tindakannya tersebut.
Dengan tegas
beliau menjelaskan bahwa semua itu dilakukan untuk menemukan sumur zamzam.
Dengan alasan apapun kaum Quraish tetap tidak terima. Namun beliau tatap
bersikeras untuk melakukannya. Ketika itu beliau merasa benar-benar miskin
karena hanya mempunyai satu orang putra.
Akhirnya untuk
meredam suasana, beliau mengucapkan nadzar. Janji khusus untuk mengorbankan
salah satu putranya jika mempunyai anak laki-laki lebih dari sepuluh. Dengan
nadzar ini sebenarnya beliau ingin menegaskan pada kaumnya bahwa apa yang
dilakukannya demi keperluan mereka juga.
Sumber : dikutip dari buku "Lentera Kegelapan"
Sumber : dikutip dari buku "Lentera Kegelapan"
Dhawuh KH. Idris Marzuqi
Dhawuh KH. Idris Marzuqi
Pertama, agar berusaha sekuat tenaga menamatkan jenjang pendidikan di Pondok Lirboyo. Kunci kesuksesan belajar di Lirboyo selain mempeng adalah harus menamatkan madrasah. Meskipun ketika mondok itu tidak dapat apa-apa, namun jika tamat insyaallah ada nilai tersendiri.
Kedua, setelah tamat harus lebih memprioritaskan memperjuangkan ilmu dulu. Jika lebih mengutamakan bekerja dan menyepelekan mengamalkan ilmu, maka dia malah akan kesulitan menuai hasil maksimal(dalam mencari rizki), sudah banyak sekali buktinya. Selain itu ketika belajar di Lirboyo, jangan pernah merasa putus asa, apapun yang terjadi.
Ketiga, jangan sekali-kali mengandalkan kecerdasan otak, namun andalkan mempeng ngaji.
Itulah yang benar-benar disebut orang yang mencari ilmu, bukan untuk mencari keindahan atau kemewahan dunia, namun mencari kemuliaan ilmu. Jika ketika belajar diniatkan untuk mecari pekerjaan, maka ia akan berhasil mewujudkannya dan tanpa bermanfaat di akhiratnya. Dan jika diniatkan untuk mencari ilmu untuk mendapat keridhoan dan untuk diamalkan, pasti akan mendapat akhirat dan dunia akan mengikutinya.
Bersabarlah dalam mencari ilmu atas segala kesulitannya, karena suatu saat nanti ilmulah yang akan memuliakanmu di dunia dan akhirat. Berusaha dan berdo'a maka semua yang dicita-citakan akan sukses.
Semoga bermanfaat... !!!
Sumber : di kutip dari buku "Petuah Bijak & Kisah Inspiratif Ulama' Salaf dan Nusantara".





Arina Rosyada







