Pages

Minggu, 31 Januari 2016

Sumber Cahaya Dunia


(Pra Kerasulan)
Nadzar
Berawal dari yang baik akan melahirkan sesuatu yang baik juga, dari yang baik itu adalah pemimpin besar kaum Quraish yang masyhur yakni ‘Abdul Muthalib. Beliau adalah segelintir orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Nabi Ibrahim, ketika penduduk Mekkah sudah menyimpang dari ajaran Nabi Ibrahim dengan menyembah berhala di sekitar Ka’bah.
Sebagai pemuka Quraish ‘Abdul Muthalib mempunyai tanggung jawab yang besar yakni  beliau berkewajiban untuk menyediakan air minum bagi peziarah yang berkunjung ke Baitullah. Hal ini dikenal dengan sebutan siqayah. Awalnya beliau dapat memenuhi kebutuhan air dengan sumur-sumur di sekitar Ka’bah, namun sumur-sumur itu kadang mengering. Semakin banyaknya peziarah yang berkunjung, hal ini menjadi tugas berat bagi ‘Abdul Muthalib untuk memenuhi kebutuhan air. Walaupun disisi lain kaum Quraish mendapat keuntungan dari hasil perdagangannya.
Satu-satunya sumur yang bisa di andalkan hanyalah Zamzam, namun beberapa tahun silam sumur Zamzam telah ditimbun oleh suku Jurhum tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Sementara suku Khuza’ah yang telah mengusir Jurhum tidak tertarik untuk mencarinya. Selama beberapa hari ‘Abdul Muthalib berpikir untuk mencari jalan keluar hingga membuatnya letih. Salah satu tempat yang di gemari beliau untuk menghilangkan penat adalah Hijr Isma’il yang berada disisi ka’bah.
Suatu malam beliau terlelap di Hijr Isma’il dan tak lama kemudian beliau tersentak oleh sebuah mimpi. Beliau merasa telah ditemui oleh laki-laki yang berpakaian serba putih yang memerintahkan beliau untuk menggali at-Thaibah (salah satu nama Ka’bah). Mimpi itu diceritakan kepada kaumnya dan ditafsirkan sebagai harapan untuk menemukan sumber air. Kaumnya memohon beliau untuk tidur di tempat yang sama agar mendapatkan kejelasan mimpinya.
Keesokan harinya beliau tidur ditempat yang sama selama 3 hari, beliau bermimpi yang sama. Beliau baru memahami  yang dikehendaki oleh laki-laki misterius dalam mimpinya.” Galilah Zamzam, sumber air melimpah dan akan mencukupi bagi jama’ah haji. Lokasi sumur itu berada disuatu tempat yang banyak kotoran dan darahnya. Disana akan selalu ada burung gagak yang mematuk-matuk serta menjadi sarang semut”.
Dengan penuh perhatian beliau tertarik pada tempat berdirinya berhala Ishaf dan Na’ilah, karena menggambarkan tempat yang dituju. Tanpa banyak bicara, dengan dibantu oleh al-Haris satu-satunya putra yang beliau miliki saat itu, beliau menggali tempat yang disucikan oleh kaum Quraish tersebut, dengan segala resiko. Akhirnya kaum Quraish mulai berdatangan dan mengecam beliau supaya menghentikan tindakannya tersebut.
Dengan tegas beliau menjelaskan bahwa semua itu dilakukan untuk menemukan sumur zamzam. Dengan alasan apapun kaum Quraish tetap tidak terima. Namun beliau tatap bersikeras untuk melakukannya. Ketika itu beliau merasa benar-benar miskin karena hanya mempunyai satu orang putra.
Akhirnya untuk meredam suasana, beliau mengucapkan nadzar. Janji khusus untuk mengorbankan salah satu putranya jika mempunyai anak laki-laki lebih dari sepuluh. Dengan nadzar ini sebenarnya beliau ingin menegaskan pada kaumnya bahwa apa yang dilakukannya demi keperluan mereka juga.

Sumber : dikutip dari buku "Lentera Kegelapan"

Dhawuh KH. Idris Marzuqi

Dhawuh KH. Idris Marzuqi

       Pertama, agar berusaha sekuat tenaga menamatkan jenjang pendidikan di Pondok Lirboyo. Kunci kesuksesan belajar di Lirboyo selain mempeng adalah harus menamatkan madrasah. Meskipun ketika mondok itu tidak dapat apa-apa, namun jika tamat insyaallah ada nilai tersendiri.
  Kedua, setelah tamat harus lebih memprioritaskan memperjuangkan ilmu dulu. Jika lebih mengutamakan bekerja dan menyepelekan mengamalkan ilmu, maka dia malah akan kesulitan menuai hasil maksimal(dalam mencari rizki), sudah banyak sekali buktinya. Selain itu ketika belajar di Lirboyo, jangan pernah merasa putus asa, apapun yang terjadi.


          Ketiga, jangan sekali-kali mengandalkan kecerdasan otak, namun andalkan mempeng ngaji.

      Itulah yang benar-benar disebut orang yang mencari ilmu, bukan untuk mencari keindahan atau kemewahan dunia, namun mencari kemuliaan ilmu. Jika ketika belajar diniatkan untuk mecari pekerjaan, maka ia akan berhasil mewujudkannya dan tanpa bermanfaat di akhiratnya. Dan jika diniatkan untuk mencari ilmu untuk mendapat keridhoan dan untuk diamalkan, pasti akan mendapat akhirat dan dunia akan mengikutinya.
           Bersabarlah dalam mencari ilmu atas segala kesulitannya, karena suatu saat nanti ilmulah yang akan memuliakanmu di dunia dan akhirat. Berusaha dan berdo'a maka semua yang dicita-citakan akan sukses.

Semoga bermanfaat... !!!

Sumber : di kutip dari buku "Petuah Bijak & Kisah Inspiratif Ulama' Salaf dan Nusantara".