(Pra Kerasulan)
Nadzar
Berawal dari yang
baik akan melahirkan sesuatu yang baik juga, dari yang baik itu adalah pemimpin
besar kaum Quraish yang masyhur yakni ‘Abdul Muthalib. Beliau adalah segelintir
orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Nabi Ibrahim, ketika penduduk
Mekkah sudah menyimpang dari ajaran Nabi Ibrahim dengan menyembah berhala di
sekitar Ka’bah.
Sebagai pemuka
Quraish ‘Abdul Muthalib mempunyai tanggung jawab yang besar yakni beliau berkewajiban untuk menyediakan air
minum bagi peziarah yang berkunjung ke Baitullah. Hal ini dikenal dengan
sebutan siqayah. Awalnya beliau dapat memenuhi kebutuhan air dengan sumur-sumur
di sekitar Ka’bah, namun sumur-sumur itu kadang mengering. Semakin banyaknya
peziarah yang berkunjung, hal ini menjadi tugas berat bagi ‘Abdul Muthalib
untuk memenuhi kebutuhan air. Walaupun disisi lain kaum Quraish mendapat
keuntungan dari hasil perdagangannya.
Satu-satunya
sumur yang bisa di andalkan hanyalah Zamzam, namun beberapa tahun silam sumur Zamzam
telah ditimbun oleh suku Jurhum tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Sementara
suku Khuza’ah yang telah mengusir Jurhum tidak tertarik untuk mencarinya.
Selama beberapa hari ‘Abdul Muthalib berpikir untuk mencari jalan keluar hingga
membuatnya letih. Salah satu tempat yang di gemari beliau untuk menghilangkan
penat adalah Hijr Isma’il yang berada disisi ka’bah.
Suatu malam
beliau terlelap di Hijr Isma’il dan tak lama kemudian beliau tersentak oleh
sebuah mimpi. Beliau merasa telah ditemui oleh laki-laki yang berpakaian serba
putih yang memerintahkan beliau untuk menggali at-Thaibah (salah satu nama
Ka’bah). Mimpi itu diceritakan kepada kaumnya dan ditafsirkan sebagai harapan
untuk menemukan sumber air. Kaumnya memohon beliau untuk tidur di tempat yang sama
agar mendapatkan kejelasan mimpinya.
Keesokan harinya
beliau tidur ditempat yang sama selama 3 hari, beliau bermimpi yang sama.
Beliau baru memahami yang dikehendaki
oleh laki-laki misterius dalam mimpinya.” Galilah Zamzam, sumber air melimpah
dan akan mencukupi bagi jama’ah haji. Lokasi sumur itu berada disuatu tempat yang
banyak kotoran dan darahnya. Disana akan selalu ada burung gagak yang
mematuk-matuk serta menjadi sarang semut”.
Dengan penuh
perhatian beliau tertarik pada tempat berdirinya berhala Ishaf dan Na’ilah,
karena menggambarkan tempat yang dituju. Tanpa banyak bicara, dengan dibantu
oleh al-Haris satu-satunya putra yang beliau miliki saat itu, beliau menggali
tempat yang disucikan oleh kaum Quraish tersebut, dengan segala resiko. Akhirnya
kaum Quraish mulai berdatangan dan mengecam beliau supaya menghentikan
tindakannya tersebut.
Dengan tegas
beliau menjelaskan bahwa semua itu dilakukan untuk menemukan sumur zamzam.
Dengan alasan apapun kaum Quraish tetap tidak terima. Namun beliau tatap
bersikeras untuk melakukannya. Ketika itu beliau merasa benar-benar miskin
karena hanya mempunyai satu orang putra.
Akhirnya untuk
meredam suasana, beliau mengucapkan nadzar. Janji khusus untuk mengorbankan
salah satu putranya jika mempunyai anak laki-laki lebih dari sepuluh. Dengan
nadzar ini sebenarnya beliau ingin menegaskan pada kaumnya bahwa apa yang
dilakukannya demi keperluan mereka juga.
Sumber : dikutip dari buku "Lentera Kegelapan"