Pages

Selasa, 16 Februari 2016

Tips Belajar dengan Perasaan Cinta


          Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah disana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.
" Habib, saya mau pulang saja."
"Lho, kenapa?" tanya beliau
"Bebal otak saya ini. untuk menghafalkan setengah mati, tidak pantas saya menuntut ilmu disini. Saya minta izin pulang."
"Jangan dulu, sabar."
"Sudah Bib, Saya sudah 4 tahun bersabar. sudah tidak kuat, lebih baik saya menikah saja."
"Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu."
"Sudah Bib, saya menghafalkan setengah mati, tidak hafal-hafal."

          Habib Abdullah kemudian masuk kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia Ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan, surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai. Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.

"Ini surat siapa?" tanya Habib
"Owh, ini surat ibu saya"
"Bacalah!"

          Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.
"Sudah kamu baca?" Tanya beliau lagi
"Sudah"
"Berapa kali?"
"Satu kali."
"Tutup surat itu! apa kata ibumu?"
"Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. bapak sudah membeli mobil baru.
Adik saya sudah diterima bekerja disini, dan lain-lain."
Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan. "Baca satu kali kok hafal? katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan." Kata Habib dengan pandangan serius.

          Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.

          Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan, sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan yang gembira, ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal.

          Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami apa yang dirasakan santri dalam kisah diatas. Jawabannya adalah rasa cinta. kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.

          Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tapi puluhan lagu-lagu cinta dan ratusan nam pemain bola hafal diluar kepala. padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghafalkannya.

          Bagi para guru / pengajar, jangan mudah mengkambinghitamkan kemampuan otak siswa dalam lemahnya menerima pelajaran. mungkin anda tidak berhasil menanamkan virus cinta di hati mereka.

Sumber : Buku "Petuah bijak & Kisah Inspiratif Ulama Salaf dan Nusantara"

0 komentar:

Posting Komentar