Pages

Minggu, 14 Februari 2016

Jangan Meremehkan Orang Lain

          Dikisahkan, ada seorang yang hidup bergelimang dosa meninggal di pinggiran kota Bashrah. Perilaku buruknya membuat tetangganya acuh tak acuh dengan kematiannya. Sehingga istrinya tidak mendapati orang yang mau membantu membawa jenazahnya ke masjid dan pemakaman. Terpaksa istrinya mengupahi dua orang untuk membawa jenazah tersebut.
          Dibawalah jenazah tadi ke masjid. Juga tidak ada seorangpun yang bersedia menyolatinya. Orang-orang seperti pura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Istrinya memutuskan untuk segera membawa jenazah suaminya ke pemakaman.
          Di sebuah bukit yang lokasinya bersebelahan dengan pemakaman, ada seorang ulama besar yang terlihat seperti menunggu seseorang. Ternyata beliau ingin menyolati jenazah yang akan melewati tempat tersebut. Berita ulama besar akan menyolati jenazah di tempat itu segera tersiar keseantero Bashrah. Orang-orang berduyun-duyun untuk juga ikut menyolati, orang-orang heran dan takjub. Ternyata jenazah yang mereka sholati adalah orang yang mereka kenal sebagai ahli maksiyat. Mereka bertanya kepada ulama tersebut.
"Apa yang membuat anda bersedia datang jauh-jauh ketempat ini dan menyolati jenazah ini?"
"Ada yang berkata dalam mimpiku, datangilah bukit di sebelah pemakaman. Disana kamu akan melihat jenazah yang pengiringnya hanya satu wanita. sholatilah dia, karena dia orang yang mendapatkan ampunan." jawab ulama.

          Bertambahlah ketakjuban orang-orang yang hadir ditempat itu. Ulama tadi kemudian memanggil istri almarhum dan menanyakan keseharian suaminya dan perjalanan hidupnya. Istrinya menjawab, "Dia seperti yang sudah dikenal dikota ini. Sepanjang hari ia menghabiskan waktu untuk bermaksiat dan minum arak."

"Coba anda perhatikan lagi, apakah ada amal kebaikan yang ia lakukan?" tanya ulama itu lagi.

"Iya, setahuku tiga hal. Yang pertama, setiap dia sadar dari mabuknya pada waktu subuh, dia mengganti bajunya, berwudhu dan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Kemudian dia kembali mabuk dan bermaksiat.
          Yang kedua, dirumahnya selalu ada dua atau satu anak yatim. Dia memperlakukannya dengan baik anak yatim itu melebihi kepada anaknya sendiri.
          Yang ketiga, jika dia sadar dari mabuknya ditengah gelap malam, dia menangis dan meratap, "Ya Allah, dibagian neraka jahanam mana Engkau akan menempatkan hambamu yang kotor dengan maksiat ini."
          Sang ulama kemudian pulang, karena dia sudah  mengetahui dengan jelas peristiwa aneh yang terjadi di siang hari itu.
          Jangan mudah berprasangka buruk kepada orang lain. Setiap orang punya kisah
hidupnya sendiri yang kita tidak mengetahui hakikat sebenarnya.

Sumber : Buku "Petuah Bijak & Kisah Inspiratif Ulama salaf dan Nusantara"

0 komentar:

Posting Komentar